Sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat, peran Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) sangatlah krusial dalam mengidentifikasi masalah gigi. Rekomendasi proaktif dari Anda terbukti dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam melakukan rutinitas perawatan gigi tiruan yang benar secara signifikan.
Prevalensi Kehilangan Gigi di Indonesia

Masalah kehilangan gigi di Indonesia merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang cukup besar dan sering ditemukan dalam praktik kefarmasian sehari-hari. Berdasarkan data dari Riskesdas 2018, prevalensi kehilangan gigi di Indonesia telah mencapai angka yang cukup mengejutkan, yaitu 19% dari total populasi.
Angka Kehilangan Gigi yang Tinggi di Berbagai Usia
Banyak pasien mungkin menganggap bahwa hilangnya gigi hanya dialami oleh para lanjut usia saja. Faktanya, hampir 40% penduduk yang berada di usia produktif (di bawah 55 tahun) sudah mengalami kehilangan gigi asli mereka.

Penyebab Utama Kehilangan Gigi
Dua penyebab utama kehilangan gigi di Indonesia adalah karies gigi (gigi berlubang) dan penyakit periodontal (penyakit gusi). Kebanyakan pasien sayangnya baru memeriksakan diri ke tenaga medis saat sudah mengalami nyeri hebat atau gigi sudah goyang parah, sehingga pencabutan menjadi satu-satunya pilihan.
Dampak Nyata Kehilangan Gigi terhadap Kualitas Hidup
Kehilangan gigi bukan sekadar masalah penampilan estetik. Kondisi ini membawa dampak multidimensi yang luas, mencakup aspek fisik, psikologis, hingga fungsi sosial pasien.
Risiko Malnutrisi dan Dampak Psikososial
Secara fungsional, hilangnya gigi sangat mengganggu kemampuan mengunyah yang berisiko memicu malnutrisi, terutama pada pasien lansia. Secara psikologis, pasien kerap merasakan malu dan kurang percaya diri, yang berdampak langsung pada kualitas interaksi sosial mereka.
Gigi Palsu Menjadi Salah Satu Solusi
Salah satu solusi untuk menggantikan gigi yang hilang adalah gigi tiruan (gigi palsu). Gigi tiruan membantu pasien kembali mengunyah, berbicara, dan tampil lebih percaya diri.
Masalah Umum pada Pemakaian Gigi Tiruan
Meskipun gigi tiruan lepasan (denture) adalah solusi utama, pemakaiannya sering membawa tantangan baru bagi kenyamanan pasien. Banyak pengguna mengeluh gigi tiruan mereka terasa mudah goyang atau sering bergeser saat digunakan beraktivitas.
Risiko Denture Stomatitis dan Iritasi
Gigi yang tidak stabil dapat memicu denture stomatitis (peradangan mukosa mulut) akibat tumpukan bakteri atau jamur. Selain itu, sisa makanan sangat mudah terselip di bawah gigi tiruan yang longgar, memicu iritasi gusi dan bau mulut.
Mengenal Polident Adhesive sebagai Solusi Klinis

Untuk membantu mengatasi masalah stabilitas tersebut, Anda dapat merekomendasikan Polident Adhesive. Produk ini berfungsi meningkatkan retensi dan stabilitas gigi tiruan pada jaringan mulut pemakainya.
Solusi untuk Perubahan Struktur Mulut
Apoteker perlu mengedukasi pasien bahwa struktur tulang mulut akan menyusut secara alami seiring bertambahnya usia, sehingga gigi tiruan menjadi longgar. Polident Adhesive membantu mengisi celah tersebut agar gigi tiruan tetap stabil dan nyaman.
Kandungan Utama dan Manfaat Polident Adhesive
Produk ini bekerja dengan menyerap air liur dan berubah menjadi lapisan gel perekat yang lembut serta fleksibel. Mekanisme ini memberikan stabilitas maksimal agar gigi tidak bergeser, kenyamanan ekstra sebagai bantalan gusi, serta proteksi dari sisa makanan.
Daya Tahan 12 Jam dan Bebas Zinc
Polident Adhesive mampu bertahan hingga 12 jam dan formulanya bersifat bebas zinc (zinc-free) sehingga aman untuk penggunaan rutin jangka panjang.
Ayo, Uji Pengetahuan Anda!
Dapatkan kesempatan memenangkan hadiah menarik sambil belajar cara merawat gigi tiruan yang benar. Jangan lupa, ikuti kuis pertama Polident Academy pada 25 Agustus! Total hadiah Rp5.000.000. Mau tau lebih lanjut? Tunggu kurikulum keduanya.



