Rupiah Melemah Bayangi Industri Farmasi, Apakah Harga Obat Akan Naik?

Taruna Ikrar

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi tantangan ekonomi salah satunya pada industri farmasi. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar menyebut nilai tukar rupiah yang melemah akan berpotensi meningkatkan harga obat-obatan di Indonesia.

“Tentu industri farmasi, supaya bisa survive, akan menaikkan harga. Tapi, pemerintah berharap kenaikannya jangan terlalu tinggi,” ungkap kepala BPOM saat diwawancarai oleh BBC pada Selasa (2/6/2026).

Industri farmasi nasional termasuk sektor yang cukup sensitif terhadap pergerakan kurs karena sebagian bahan baku berasal dari impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pengadaan bahan baku dalam mata uang dolar otomatis menjadi lebih mahal.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman dalam wawancaranya bersama Bisnis pada Sabtu (6/6/2026) menyebut depresiasi rupiah tidak hanya tercermin pada kenaikan harga bahan baku, tetapi merambat ke biaya logistik, pembiayaan, dan kebutuhan modal kerja perusahaan.

Lebih lanjut, Rizal mengatakan rupiah yang melemah dalam periode panjang dapat berisiko menghambat investasi dan ekspansi kapasitas produksi industri farmasi.

Dalam mengatasi hal ini, BPOM menerapkan kebijakan untuk memberikan fleksibilitas lebih besar kepada perusahaan farmasi untuk mengganti pemasok bahan baku tanpa harus melalui proses perizinan yang panjang.

“Bagaimana penggantian misalnya suplainya dari negara A, dia bisa pindah ke negara B. Dengan kebijakan ini, yang sudah kami tandatangani, saya yakin itu bisa menurunkan atau at least menstabilkan harga obat,” ujarnya.

Taruna Ikrar turut menjelaskan bahwa industri farmasi harus melakukan penyesuaian harga agar bisa bertahan. BPOM akan mendorong penerapan e-labeling untuk memangkas biaya cetak. Upaya ini bertujuan menjaga pasokan obat nasional dan mengurangi dampak kenaikan harga obat akibat gejolak valuta asing

Meski begitu, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir mengenai lonjakan harga obat dalam waktu dekat. Pemerintah menilai dampak pelemahan rupiah terhadap harga obat masih dapat dikendalikan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, seperti dikutip Metro TV, menyampaikan bahwa kenaikan harga obat akibat pelemahan rupiah diperkirakan tidak akan signifikan. Menurutnya, pengaruh terhadap harga obat tetap ada, tetapi tidak serta-merta menyebabkan kenaikan yang besar di tingkat konsumen. Pemerintah juga terus memantau perkembangan nilai tukar serta kondisi industri kesehatan nasional.

BPOM mengakui bahwa pelemahan rupiah dapat berpotensi pada biaya produksi obat karena ketergantungan impor cukup tinggi. Namun, hal ini tidak langsung menyebabkan harga obat naik. 

Ketersediaan stok bahan baku, strategi bisnis perusahaan, kondisi distribusi, hingga regulasi yang berlaku juga ikut memengaruhi harga jual obat di pasaran. Karena itu, perubahan harga obat biasanya memerlukan berbagai pertimbangan sebelum diterapkan.

Bagi apotek, kondisi ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat pengelolaan bisnis. Pemantauan pergerakan produk secara rutin akan memudahkan apotek dalam menentukan kapan melakukan pembelian ulang dan kapan harus mengurangi stok tertentu. 

Melalui GPOS Lite, apotek dapat memantau stok obat, transaksi penjualan, serta laporan bisnis secara lebih praktis dalam satu sistem. Pengelolaan yang efisien dapat membantu apotek tetap kompetitif dan siap menghadapi berbagai perubahan kondisi pasar.

Bagikan
WhatsApp
Facebook
LinkedIn

Telah Diliput oleh Media Tepercaya

Scroll to Top

Terima Kasih

Follow sosial media GPOS untuk lihat informasi terbaru