Sejumlah titik di Jakarta diinformasikan mengalami bencana banjir akibat curah hujan tinggi. Wilayah terdampak diantaranya, Daan Mogot, Pondok Labu, Kampung Melayu, Bekasi, Bogor, dan sekitarnya.
Genangan air hujan tidak hanya menyebabkan banjir, ada bahaya yang mengintai dibaliknya. Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang muncul dari urin tikus. Penyakit ini mengancam warga-warga perkotaan, terutama di kawasan dengan sanitasi yang buruk dan padat penduduk.
Praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salama, MKM mengungkap, “penyakit leptospirosis sering terlambat disadari,” ujarnya saat diwawancarai oleh TV One News pada Jumat, 23 Januari 2026.
Jika Leptospirosis saat masih ringan, pasien bisa diberikan antibiotik. Sebaliknya, jika penanganan penyakit ini lambat, dapat menyebabkan kematian.
“Banjir tidak hanya soal air, tapi berkaitan juga dengan kesehatan. Deteksi dini untuk penyakit dan penanganan cepat bisa menyelamatkan nyawa,” lanjut dr Ngabila Salama.
Adapun gejala Leptospirosis mirip dengan flu. Mulanya pasien terjangkit akan mengalami demam tinggi, sakit kepala hingga menggigil, lalu nyeri otot pada betis dan punggung. Jika sudah semakin parah, mata dan kulit mulai mengalami perubahan warna menjadi kuning (jaundice).
Umumnya, penularan penyakit zoonosis terjadi saat warga bersentuhan langsung dengan air banjir, lumpur, sungai, atau selokan yang tercemar dengan bakteri.
Pada laman resmi Kemenkes, dijelaskan bahwa, “Bakteri penyebab leptospira dapat masuk melalui luka kecil. Sehingga penting untuk mencuci kaki dan tangan dengan sabun dan air mengalir setelah kontak dengan air banjir.”
Kemenkes menghimbau masyarakat untuk melakukan deteksi dan pengobatan dini untuk menekan angka kematian. Deteksi dini dapat dilakukan dengan mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala-gejala awal leptospirosis. Sedangkan pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga lingkungan tetap bersih dan selalu membersihkan diri setelah terjadi kontak dengan genangan air banjir.