GPOS kembali menghadirkan webinar edukatif bagi tenaga kefarmasian melalui webinar “Tatalaksana ISPA (Common Cold & Rhinitis Alergi)” yang diselenggarakan pada Rabu, 24 Juni 2026 secara daring. Webinar ini menghadirkan Apt. Marinus Pasaribu, S.Si., M.Farm. sebagai narasumber, dipandu oleh Zaenal Aripin selaku Moderator, dan diikuti oleh 255 peserta yang terdiri dari apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) dari berbagai daerah di Indonesia.
Mengangkat materi bertajuk “Tatalaksana Rhinitis Alergi dan Common Cold pada Praktik Sehari-hari”, Bapak Marinus menyoroti pentingnya pemahaman tenaga kefarmasian terhadap penatalaksanaan ISPA, khususnya common cold dan rhinitis alergi, sebagai bekal dalam memberikan pelayanan dan edukasi yang tepat. Kedua kondisi tersebut merupakan kasus yang sering ditemui dalam praktik pelayanan kefarmasian dan memerlukan penanganan yang sesuai untuk meningkatkan kenyamanan serta kualitas hidup pasien.

Pada kesempatan tersebut, Bapak Marinus membahas tatalaksana common cold dan rhinitis alergi secara komprehensif, mulai dari identifikasi gejala, diagnosis & perencanaan terapi yang sesuai, hingga pentingnya penggunaan obat secara tepat. Salah satu terapi kombinasi yang turut dibahas adalah Rhinodex, yang dapat membantu meredakan gejala flu dan rhinitis alergi sehingga mendukung pasien untuk tetap nyaman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Edukasi berkelanjutan bagi tenaga kefarmasian sangat penting. Pembaruan informasi mengenai tatalaksana ISPA sangat penting agar apoteker dan TTK dapat memberikan edukasi serta rekomendasi terapi yang tepat, aman, dan sesuai dengan kebutuhan pasien,” jelas Bapak Marinus.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Salah satunya disampaikan oleh Ibu Dea dari Apotek Romessa Cikutra, yang menyoroti penggunaan dosis pseudoephedrine pada pasien dengan riwayat hipertensi.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Beliau menjelaskan penggunaan pseudoephedrine pada pasien hipertensi memerlukan pertimbangan yang cermat berdasarkan kondisi klinis masing-masing pasien. Tenaga kefarmasian perlu memperhatikan riwayat penyakit, tingkat keparahan, serta memastikan penggunaan obat dilakukan secara rasional sesuai indikasi dan rekomendasi yang berlaku. Edukasi kepada pasien juga menjadi bagian penting untuk mendukung keamanan dan efektivitas terapi.
Melalui webinar ini, peserta memperoleh pembaruan wawasan mengenai penanganan common cold dan rhinitis alergi yang dapat langsung diterapkan dalam praktik kefarmasian. Diharapkan ilmu yang diperoleh dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus memperkuat peran apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.